Memendam Emosi
Jakarta, 26 Juli 2018 10.58 WIB
Pernah nggak bertanya-tanya bagaimana seseorang menyimpan emosinya dalam-dalam? Bagaimana dia sok tegar, bilang dia baik-baik saja, tapi semuanya semu? Bagaimana dia bisa bertahan dengan segala emosi negatif yang diredam?
I've been there. Rasanya baik-baik saja. Saya tidak tahu ada yang salah dengan diri saya. Tapi saya melanjutkan hidup tanpa berpikir panjang persoalan ini.
Sampai akhirnya, ketika ada yang bertanya, "Are you okay?"
Belum dijawab aja, udah mewek duluan, Haha.
Pada akhirnya, saya berpikir, nggak semua hal perlu disimpan rapat-rapat, sendirian. Orang lain memang nggak pernah ada dalam posisi saya, tapi saya berhak berbicara. Karena nggak semua hal perlu dipendam.
Semua yang buat kita penting pasti akan memberi trigger buat kita untuk marah, sedih, kecewa, senang, dsb. Itu wajar.
Berpikir kalau bisa mengubah situasi dan kondisi yang sering membuat saya kecewa. Berpikir yang nggak ada habisnya, "Gimana nanti kalau saya...?" "Bisa nggak nanti...?"
Keadaan itu nggak bisa berubah dalam satu malam.
Dipendam lagi dong?
Carilah temen bicara yang bisa bener-bener dengerin apa yang terjadi, bukan untuk menghakimi kamu. Buat saya, orang ini biasanya profesional, seperti psikolog. Mereka yang profesional punya banyak sejarah praktik dengan klien, mereka terbiasa menghadapi emosi orang lain, mereka terbiasa mencari solusi untuk klien. Dan, inilah yang saya butuhkan. Kalau kamu?
Pernah nggak bertanya-tanya bagaimana seseorang menyimpan emosinya dalam-dalam? Bagaimana dia sok tegar, bilang dia baik-baik saja, tapi semuanya semu? Bagaimana dia bisa bertahan dengan segala emosi negatif yang diredam?
I've been there. Rasanya baik-baik saja. Saya tidak tahu ada yang salah dengan diri saya. Tapi saya melanjutkan hidup tanpa berpikir panjang persoalan ini.
Sampai akhirnya, ketika ada yang bertanya, "Are you okay?"
Belum dijawab aja, udah mewek duluan, Haha.
Pada akhirnya, saya berpikir, nggak semua hal perlu disimpan rapat-rapat, sendirian. Orang lain memang nggak pernah ada dalam posisi saya, tapi saya berhak berbicara. Karena nggak semua hal perlu dipendam.
Semua yang buat kita penting pasti akan memberi trigger buat kita untuk marah, sedih, kecewa, senang, dsb. Itu wajar.
Berpikir kalau bisa mengubah situasi dan kondisi yang sering membuat saya kecewa. Berpikir yang nggak ada habisnya, "Gimana nanti kalau saya...?" "Bisa nggak nanti...?"
Keadaan itu nggak bisa berubah dalam satu malam.
Dipendam lagi dong?
Carilah temen bicara yang bisa bener-bener dengerin apa yang terjadi, bukan untuk menghakimi kamu. Buat saya, orang ini biasanya profesional, seperti psikolog. Mereka yang profesional punya banyak sejarah praktik dengan klien, mereka terbiasa menghadapi emosi orang lain, mereka terbiasa mencari solusi untuk klien. Dan, inilah yang saya butuhkan. Kalau kamu?
Comments
Post a Comment