Dijerat 'Tali Keluarga'
Jakarta, 16 Juli 2018 14.29 WIB
Gimana kehidupanmu dengan keluarga adalah salah satu indikator kebahagiaan—setidaknya menurut saya.
Hubunganmu sehat, erat dan hangat bisa diartikan sebagai komunikasimu aktif, hangat dan intens. Kamu bisa mengandalkan keluargamu dalam bertukar cerita dan pikiran. Adanya timbal balik yang positif dari orangtua, misalnya. Sebaliknya, kalau hubunganmu lebih diisi dengan komunikasi seperlunya, jarang menghabiskan waktu bersama, banyak marah, teriakan, bahkan melibatkan kekerasan, ini adalah gambaran hubungan keluarga yang kurang sehat.
Anak-anak yang tubuh dalam keluarga yang sehat, cenderung mempunyai emosi yang stabil sehingga ini mempengaruhi prestasi mereka yang cemerlang. Sebaliknya, anak-anak yang punya hubungan buruk dengan keluarganya, cenderung memendam emosi hingga sulit menghadapi stres. Jelas, hal ini juga mempengaruhi prestasi mereka.
Saya tumbuh dalam keluarga yang punya sejarah emosinya kurang baik. Mama saya tipe pendiam, yang lebih suka memendam apa yang dia rasa dan pikirkan. Banyak luka masa kecil yang dibawa mama saya hingga saya dan adik-adik saya lahir.
Terang, bukan salah mama saya kalau akhirnya dia memberikan luka batin masa kecil. Ya, saya tumbuh dengan materi orangtua saya. Tapi mereka nggak mampu hadir dalam masa-masa sulit saya. Terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk dengan emosi luka batin dan permasalahan sendiri, dan terutama hanyut dalam pengasuhan adik pertama saya yang autis.
Hingga saya tumbuh tanpa dorongan dan dukungan emosional dari keluarga saya. Bukan berarti mereka nggak mendukung saya, hanya saja... saya nggak bisa mengeluh atau bercerita tentang hal-hal yang penting, seperti pacar misalnya :p
Ketika mama saya jatuh sakit pada 2016, rasanya dunia perlahan runtuh. Cahaya dalam keluarga perlahan meredup. Pada tahun yang sama, saya tengah mengalami quarter life crisis. Hubungan saya dengan pacar semakin jauh dan nggak jelas.
Intinya, saya lagi punya hidup yang lagi depresi. Saya nggak tahu mesti gimana. Saya hidup dalam kesendirian. Tanpa ada yang mengerti.
Ketika saya putuskan tahun 2018 ini untuk lebih mulai fokus kembali ke keluarga, segalanya lebih mudah. Dalam artian, saya mengabdikan waktu saya untuk keluarga saya. Dan, (hampir) kehilangan social life, serta waktu untuk berkarya.
Inilah jeratan keluarga yang mesti saya terima.
Gimana kehidupanmu dengan keluarga adalah salah satu indikator kebahagiaan—setidaknya menurut saya.
Hubunganmu sehat, erat dan hangat bisa diartikan sebagai komunikasimu aktif, hangat dan intens. Kamu bisa mengandalkan keluargamu dalam bertukar cerita dan pikiran. Adanya timbal balik yang positif dari orangtua, misalnya. Sebaliknya, kalau hubunganmu lebih diisi dengan komunikasi seperlunya, jarang menghabiskan waktu bersama, banyak marah, teriakan, bahkan melibatkan kekerasan, ini adalah gambaran hubungan keluarga yang kurang sehat.
Anak-anak yang tubuh dalam keluarga yang sehat, cenderung mempunyai emosi yang stabil sehingga ini mempengaruhi prestasi mereka yang cemerlang. Sebaliknya, anak-anak yang punya hubungan buruk dengan keluarganya, cenderung memendam emosi hingga sulit menghadapi stres. Jelas, hal ini juga mempengaruhi prestasi mereka.
Saya tumbuh dalam keluarga yang punya sejarah emosinya kurang baik. Mama saya tipe pendiam, yang lebih suka memendam apa yang dia rasa dan pikirkan. Banyak luka masa kecil yang dibawa mama saya hingga saya dan adik-adik saya lahir.
Terang, bukan salah mama saya kalau akhirnya dia memberikan luka batin masa kecil. Ya, saya tumbuh dengan materi orangtua saya. Tapi mereka nggak mampu hadir dalam masa-masa sulit saya. Terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk dengan emosi luka batin dan permasalahan sendiri, dan terutama hanyut dalam pengasuhan adik pertama saya yang autis.
Hingga saya tumbuh tanpa dorongan dan dukungan emosional dari keluarga saya. Bukan berarti mereka nggak mendukung saya, hanya saja... saya nggak bisa mengeluh atau bercerita tentang hal-hal yang penting, seperti pacar misalnya :p
Ketika mama saya jatuh sakit pada 2016, rasanya dunia perlahan runtuh. Cahaya dalam keluarga perlahan meredup. Pada tahun yang sama, saya tengah mengalami quarter life crisis. Hubungan saya dengan pacar semakin jauh dan nggak jelas.
Intinya, saya lagi punya hidup yang lagi depresi. Saya nggak tahu mesti gimana. Saya hidup dalam kesendirian. Tanpa ada yang mengerti.
Ketika saya putuskan tahun 2018 ini untuk lebih mulai fokus kembali ke keluarga, segalanya lebih mudah. Dalam artian, saya mengabdikan waktu saya untuk keluarga saya. Dan, (hampir) kehilangan social life, serta waktu untuk berkarya.
Inilah jeratan keluarga yang mesti saya terima.
Comments
Post a Comment